Jurnal.akbidnusindo.ac.id – Pramono Soroti Premanisme Jakarta baru saja mencatatkan prestasi gemilang di panggung internasional pada awal tahun 2026. Berdasarkan laporan Global Residence Index 2026, ibu kota Indonesia ini secara mengejutkan menduduki peringkat kedua sebagai kota teraman di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Jakarta meraih skor keamanan sebesar 0,72, hanya terpaut dari Singapura yang memimpin di posisi puncak dengan skor 0,90. Pencapaian ini menempatkan Jakarta jauh di atas kota-kota besar lainnya seperti Bangkok, Kuala Lumpur, dan Manila.
Namun, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, tidak ingin terjebak dalam euforia angka-angka statistik semata. Di tengah kebanggaan atas predikat tersebut, ia justru memberikan teguran keras terkait realitas pahit yang masih terjadi di lapangan. Pada Sabtu, 11 April 2026, Pramono secara khusus menyoroti masih maraknya praktik premanisme yang menyasar masyarakat kecil, terutama para pedagang kaki lima di pusat-pusat keramaian.
Kontradiksi Prestasi Dunia dan Realitas di Tanah Abang
Berbicara di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Pramono menegaskan bahwa keamanan kota yang hakiki bukan hanya terpampang dalam dokumen survei dunia. Ia mengakui bahwa predikat dari Global Residence Index merupakan hasil kerja keras banyak pihak, mulai dari kepolisian hingga peran aktif warga menjaga harmoni. Namun, ia merasa terusik oleh insiden pemalakan yang baru-baru ini menimpa seorang pedagang bakso di kawasan Tanah Abang.
Video pemalakan tersebut mendadak viral di media sosial pada Jumat, 9 April 2026. Dalam rekaman itu, seorang oknum preman tidak hanya meminta uang secara paksa, tetapi juga merusak barang dagangan korban karena permintaannya tidak terpenuhi. Peristiwa ini terjadi di lokasi yang seharusnya menjadi barometer keamanan ekonomi rakyat di Jakarta.
“Jadi, Jakarta ini yang menempatkan kota nomor dua (teraman), itu bukan kata Gubernur, tetapi hasil survei dunia. Namun, dalam persoalan itu masih ada pedagang bakso yang dipalak di Tanah Abang. Ini menjadi perhatian serius kami,” tegas Pramono dengan nada geram.
Respons Cepat: Tidak Ada Tempat bagi Preman di Jakarta
Pramono Anung menunjukkan kepemimpinan yang sigap dalam merespons keresahan warga. Begitu video pemalakan tersebut sampai ke mejanya, ia langsung menghubungi Kepala Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta. Ia menginstruksikan aparat untuk menyisir lokasi dan menangkap pelaku tanpa kompromi.
Hasilnya, petugas berhasil mengamankan oknum preman yang merusak gerobak bakso tersebut. Saat ini, pelaku sudah mendekam di tahanan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Langkah cepat ini merupakan pesan jelas dari Balai Kota bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memiliki kebijakan nol toleransi terhadap premanisme.
Pramono menekankan bahwa keamanan harus warga rasakan secara langsung di setiap sudut gang, pasar, hingga trotoar. Ia tidak ingin warga merasa terancam saat sedang mencari nafkah atau sekadar beraktivitas di ruang publik. Baginya, rasa aman warga adalah indikator utama keberhasilan sebuah kota, melampaui skor apa pun dalam indeks global.
Mengapa Jakarta Bisa Jadi Kota Teraman Kedua di ASEAN?
Meskipun masih menghadapi tantangan premanisme, lompatan peringkat Jakarta dalam Global Residence Index 2026 memang patut publik apresiasi. Sebelumnya, Jakarta biasanya terpuruk di peringkat keenam atau ketujuh di kawasan ASEAN. Pramono mengungkapkan beberapa faktor kunci yang mendorong kenaikan drastis ini:
-
Keharmonisan Sosial yang Terjaga: Jakarta berhasil melewati berbagai momen besar keagamaan, seperti Natal, Imlek, Nyepi, Ramadan, hingga Idulfitri dengan sangat damai. Keberagaman yang kuat menjadi benteng pertahanan keamanan kota.
-
Peningkatan Teknologi Pengawasan: Pemprov DKI mewajibkan gedung-gedung besar dan area publik terhubung dengan jaringan CCTV yang terintegrasi dengan pusat komando kepolisian dan dinas terkait.
-
Sinergi Aparat dan Warga: Kolaborasi antara TNI, Polri, Satpol PP, dan kesadaran masyarakat dalam menjaga ketertiban umum mulai membuahkan hasil nyata.
-
Penataan Ruang Publik: Revitalisasi berbagai taman dan area terbuka membuat warga lebih sering berinteraksi secara positif, yang secara tidak langsung menekan angka kriminalitas di jalanan.
Tantangan Aglomerasi dan Kompleksitas Metropolitan
Jakarta saat ini menampung lebih dari 11 juta jiwa, dan jika menghitung wilayah aglomerasi Jabodetabek, angkanya melonjak hingga hampir 42 juta jiwa. Pramono menyadari bahwa dinamika sosial di kota sebesar ini sangatlah kompleks. Pertumbuhan ekonomi yang pesat seringkali beriringan dengan masalah sosial yang memicu munculnya kelompok-kelompok premanisme berkedok organisasi atau individu liar.
Oleh karena itu, Pramono mengajak seluruh warga untuk tetap waspada dan tidak ragu melaporkan segala bentuk gangguan keamanan melalui aplikasi JAKI atau kanal pengaduan resmi lainnya. Ia berjanji akan terus memperkuat personel pengamanan di titik-titik rawan, terutama di pusat perbelanjaan, terminal, dan pasar tradisional.
Pramono Soroti Premanisme Komitmen Menjaga Predikat Aman di Masa Depan
Pramono Anung mengingatkan jajarannya agar tidak lengah. Ia meminta Satpol PP dan Dinas Perhubungan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk melakukan patroli rutin secara lebih intensif. Fokusnya bukan lagi sekadar menjaga ketertiban administrasi, melainkan memberikan perlindungan fisik bagi warga dari ancaman kekerasan dan intimidasi.
“Kita harus merawat dan menjaga capaian ini bersama-sama. Keamanan dan kenyamanan adalah bagian penting yang harus terus kita rawat di Jakarta,” ujar Gubernur yang menjabat sejak awal 2025 tersebut.
Jakarta kini sedang bertransformasi dari kota yang penuh hiruk-pikuk menjadi metropolitan yang lebih tertata dan aman bagi semua kalangan. Meskipun predikat “teraman kedua di ASEAN” sudah di tangan, sorotan Pramono terhadap kasus di Tanah Abang menunjukkan bahwa pemerintah tetap berpijak pada bumi dan peduli pada nasib masyarakat kecil.
Pramono Soroti Premanisme Keamanan Jakarta Bukan Sekadar Statistik
Kasus pemalakan pedagang bakso menjadi pengingat bagi kita semua bahwa keamanan adalah proses yang tidak pernah selesai. Kita mengapresiasi pengakuan dunia terhadap Jakarta, namun kita juga mendukung langkah tegas Gubernur Pramono Anung dalam memberantas premanisme hingga ke akarnya.
Warga Jakarta mendambakan kota di mana mereka bisa berdagang dengan tenang, berjalan kaki dengan nyaman, dan membesarkan anak tanpa rasa takut. Dengan komitmen kuat dari pemerintah dan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat, Jakarta berpotensi besar untuk tidak hanya sekadar mempertahankan predikatnya, tetapi bahkan menyalip Singapura sebagai kota paling aman di masa depan.